SIFAT WALI-WALI ALLAH TA’ALA

Padahal mereka terus-menerus mendustakan para Rasul-Nya, mengerjakan larangan-Nya, dan meninggalkan semua kewajiban-Nya.

Dalam hadits ini, Allâh menjelaskan bahwa para wali-Nya itu terbagi dalam dua tingkatan.

Pertama, tingkatan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban. Ini tingkatan al-muqtashidîn (pertengahan) dan golongan kanan. Mengerjakan kewajiban-kewajiban adalah sebaik-baik amal sebagaimana yang dikatakan Umar bin al-Khathab Radhiyallahu anhu, “Sebaik-baik amal ialah menunaikan apa saja yang diwajibkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menjauhi apa saja yang diharamkan-Nya, dan niat yang jujur terhadap apa saja yang ada di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .”

Kewajiban badan yang paling agung yang diwajibkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ialah shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

Sedekat-dekat seorang hamba kepada Rabbnya ialah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.

Kedua, tingkatan orang-orang yang berlomba-lomba (dalam kebaikan) lagi dekat, yaitu orang-orang yang mendekat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah-ibadah wajib kemudian bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dan menjaga diri dari hal-hal yang makruh dan bersikap wara’ (takwa). Sikap itu menyebabkan seorang hamba dicintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala , seperti difirmankan Allâh Subhanahu wa Ta’ala : “Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.”

Dan barangsiapa dicintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan rasa cinta kepada-Nya, taat kepada-Nya, sibuk berdzikir kepada-Nya, dan berkhidmat kepada-Nya. Itu semua menyebabkannya dekat dengan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan terhormat di sisi-Nya seperti difirmankan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ,yang artinya, “Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allâh akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [Al-Mâ-idah/5:54]