SIFAT WALI-WALI ALLAH TA’ALA

Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kematian, dan semua yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala tetapkan itu atas keinginan-Nya dan pasti terjadi, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kematian hamba-Nya sebagaimana yang Dia sudah takdirkan. Meskipun demikian Allâh juga tidak suka untuk menyusahkan hamba-Nya dengan kematian. Maka jadilah kematian tersebut dikehendaki dari satu sisi dan tidak disukai dari sisi lain. Dan ini merupakan hakikat dari at-taraddud, sesuatu yang diinginkan dari satu sisi dan dibenci dari sisi lain meskipun harus ada yang kuat dari dua sisi tersebut, sebagaimana kuatnya kematian yang dibarengi dengan ketidaksukaan menyusahkan hamba-Nya. Dan tidak sama antara keinginan Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk mematikan hamba-Nya yang Mukmin yang dicintai-Nya dan tidak ingin menyusahkannya dengan keinginan Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk mematikan orang kafir yang dibenci-Nya dan menginginkan kesusahannya.

FAWA’ID HADITS

Mengerjakan yang wajib lebih didahulukan daripada mengerjakan yang sunnah.
Amal-amal yang wajib lebih utama dari amal yang sunnah.
Amal-amal sunnah dapat menutupi kekurangan amal yang wajib.
Di antara sebab mendapatkan cinta dari Allâh adalah dengan melaksanakan amal-amal yang wajib dan sunnah.
Menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Wali Allâh adalah orang yang beriman dan bertakwa, yang melaksanakan yang wajib-wajib dan yang sunnah, dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wali dibagi oleh para ulama menjadi dua: Ada wali-wali Allâh dan ada wali-wali syaitan. Wali Allâh adalah orang yang beriman dan bertakwa. Adapun wali syaitan adalah orang yang tidak bertakwa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengerjakan kesyirikan, bid’ah, maksiat dan meninggalkan yang wajib dan mengerjakan yang haram.
Ancaman bagi orang-orang yang memusuhi wali-wali Allâh.
Orang yang memusuhi wali-wali Allâh, dengan olok-olokan, gangguan, siksa, menyakiti atau membenci mereka, maka akibatnya akan mendapat siksa dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan akhirat.
Seorang hamba -betapapun tinggi derajatnya- tidak boleh berhenti dari berdoa, memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena yang demikian lebih menampakkan kehinaan dan kerendahan kepada-Nya.
Mendekatkan diri kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan yang wajib-wajib dan sunnah sebagai sebab dikabulkannya doa seorang hamba, dijaga dan dilindungi oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara wali-wali Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang bertakwa ada yang diberi karamah (kemuliaan) dengan dikabulkannya doa, dijaga, dilindungi Allâh dan karamah lainnya. Ada juga yang tidak diberi karamah.
Di dalam hadits ini tidak terdapat sedikit pun dalil atau hujjah bagi kelompok sufi yang sesat yang berpendapat bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyatu dalam diri manusia.
Setiap Muslim wajib meyakini bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala Mahatinggi, istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy, tetapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersama hamba-Nya (mengetahui) semua yang dilakukan makhluk-Nya.
Derajat Nabi dan Rasul Alaihissalam lebih tinggi di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala daripada wali.
Kematian itu pasti, semua yang bernyawa pasti mati. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tokoh para Nabi dan Rasul Alaihissallam merasakan kematian.
Kita wajib menetapkan semua nama dan sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Semua nama dan sifat-Nya tidak sama dengan makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” [Asy-Syûrâ/42:11]
Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kematian wali-Nya dan pasti terjadi, meskipun demikian Allâh juga tidak ingin menyusahkan wali-Nya. Maka ini yang dinamakan taraddud.