SIFAT WALI-WALI ALLAH TA’ALA

وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ، بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ وَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ

Akan tetapi seorang Mukmin apabila didatangi kematian maka ia diberi kabar gembira tentang keridhaan Allâh dan kemuliaan-Nya, karenanya, tidak ada sesuatu yang paling ia sukai daripada apa yang ada di depannya. Ia pun merasa senang bertemu Allâh dan Allâh pun senang bertemu dengannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang makna at-taraddud dalam hadits yang menjelaskan tentang wali-wali Allâh, “Ini adalah hadits yang paling mulia yang menjelaskan tentang sifat-sifat para wali Allâh. Sekelompok orang telah menolak (bagian akhir dari) hadits ini dan mengatakan, ‘Allâh tidak boleh disifati dengan keragu-raguan, karena sesungguhnya orang yang ragu adalah orang yang tidak mengetahui akibat dari sebuah perkara. Sedangkan Allâh Mahamengetahui akibat dari semua perkara. Bahkan mungkin sebagian dari mereka mengatakan, “Bahwa Allâh diperlakukan dengan perlakuan yang penuh keraguan!”

Penjelasannya adalah, sabda Rasul-Nya adalah benar dan tidak ada yang paling mengetahui tentang Allâh Subhanahu wa Ta’ala , paling sayang terhadap umat, paling fasih dan paling jelas penerangannya daripada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau sudah begitu, maka orang yang mengingkarinya termasuk manusia yang paling sesat, paling bodoh dan paling jelek akhlaknya. Dan orang yang seperti ini wajib diberi pelajaran dan dihukum ta’zir. Yang wajib diperhatikan, bahwa kita wajib membersihkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sangkaan-sangkaan yang batil dan keyakinan-keyakinan yang rusak.

Namun, orang yang ragu di antara kita, meskipun keragu-raguannya dikarenakan dia tidak mengetahui akibat dari sebuah perkara, maka tidak bisa kita samakan sebuah sifat yang khusus bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat salah seorang dari kita, karena tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Kemudian, ini juga merupakan kebatilan, karena seseorang dari kita apabila ragu-ragu terkadang karena dia tidak mengetahui akibat dari sesuatu, dan terkadang juga karena dua perbuatan tersebut mengandung maslahat dan mafsadat. Jadi dia melakukan atas dasar maslahat, dan membenci atas dasar mafsadat dan bukan karena dia tidak mengetahui sesuatu tersebut yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain.