SIFAT WALI-WALI ALLAH TA’ALA

Kisah-kisah seperti di atas sangat banyak dan panjang sekali kalau disebutkan semuanya. Sebagian besar orang-orang yang doanya dikabulkan dari generasi Salaf bersabar atas musibah, memilih pahalanya, mengharapkan ganjaran dari musibah tersebut, dan tidak berdoa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar musibah tersebut dihilangkan dari dirinya.

5. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi:

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang Mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.

Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kematian para hamba-Nya seperti yang Dia firmankan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” [Ali ‘Imran/3:185]

Kematian ialah berpisahnya ruh dari badan dan tidak terjadi kecuali dengan sakit yang sangat luar biasa, bahkan kematian merupakan sakit paling pedih yang menimpa seorang hamba di dunia.

Umar bin al-Khathab Radhiyallahu anhu berkata kepada Ka’ab Radhiyallahu anhu, “Jelaskan kematian kepadaku!” Ka’ab berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Kematian itu seperti pohon besar dan berdurinya yang masuk ke dalam kerongkongan seseorang, lalu duri-duri itu menempel di uratnya, kemudian ditarik keluar oleh laki-laki yang kuat, tercabutlah apa yang tercabut, dan tertinggal apa yang tertinggal.” Kemudian Umar z menangis.

Ketika Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhu hendak meninggal dunia, anaknya bertanya tentang ciri-ciri kematian, kemudian Amr Radhiyallahu anhu menjawab, “Demi Allâh! Kedua lambungku sepertinya berada di sebuah bangku, aku seperti bernafas dari lubang jarum, dan sepertinya ada ranting berduri ditarik dari kedua kakiku hingga kepalaku.”

Jika kematian dengan rasa sakit luar biasa seperti itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mewajibkannya kepada seluruh hamba-Nya. Kematian merupakan keniscayaan bagi mereka, namun Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak suka menyakiti dan menyusahkan orang Mukmin. Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menamakan itu sebagai keragu-raguan terkait dengan orang Mukmin. Sedang para Nabi, mereka tidak meninggal dunia hingga diberi hak memilih. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: